—Let's Just Fall In Love Again
This one song, is dedicated to you, the one that give me the chance to Fall in love again,
Lama sekiranya kita telah terjebak dalam diam. Yang berhadiahkan angan-angan, dalam permainan tebak tebakan untuk menyikap makna tersirat dalam setiap yang tersurat. Kita diam dalam sebuah petak umpet, permainan kucing kucingan, takut apabila dipertemukan dengan kebenaran.
—
Bara E. Brahmantika, “Il Grande Statista”
Tulisan penuh bisa dilihat di http://barabrahmantika.blogspot.com
Tidur
Tak Perlu kau Bangun dari tidurmu
Tak usah bersuara menyambutku
Ku cukup bahagia berada di sini
Di sisimu, memandangmu,
Tanpa harus kau tahu.
Sekian lama sudah kita tak berjumpa
Tiada terbilang lagi rindu ini
Dalam haru, ku membisu
Oh….
Malam ni kucukupkan hanya menatapimu
Malam ini kuputuskan untuk jaga tidurmu
Jika nanti semua ini berlalu
Jika ku tak lagi jauh darimu
Aku kan temani engkau selalu
Pagi, Siang, Sore, Malam
Kapan pun engkau mau….
- Dikutip dari karya Dewi Dee, “Tidur” dalam buku Rectoverso
Hari Berbahagia
Pemuda itu tersenyum di depan laptopnya, memandang layar yang menampilkan sebuah halaman kosong tanpa kata. Pemuda itupun memejamkan mata, berusaha memutar kembali semua kejadian, berusaha memahami tiap makna, berusaha meresapi setiap embun kebahagiaan yang masih menempel pada dinding Jiwa, pikirannya pun terbang, melayang, pergi, meninggalkan tubuhnya yang masih tersandar di kursi meja belajarnya.
Semua ingatannya dimulai pagi ini, pemuda itu terbangun dari tidurnya, seakan ditarik magnet aneh yang begitu kuat, ia pun melompat dari kasurnya, langsung menyambar telepon genggam yang berada tak jauh dari tempat tidurnya, entahlah begitu aneh rasanya, seakan2 kamarnya gelap dan semua cahaya menuju satu titik, telpon genggamnya. Dan seperti orang yang buta dalam kegelapan, satu hal yang ingin dia tuju, hanyalah cahaya. Pemuda itupun membuka satu pesan, ya hanya satu, yang masuk ke telpon genggamnya, sesuatu yang telah ia nanti semalaman, pemuda itu tersenyum, pertanyaannya terjawab, kegundahannya tenggelam, seakan semua kegelapan dan kekhawatirannya ditelan oleh whitehole, kamarnya kembali terang benderang, anginpun bertiup kencang di luar kamarnya, kata orang itu karena badai matahari, kata yang lain itu karena perbedaan suhu di laut utara dan selatan, tapi pemuda itu lebih suka berpikir, bahwasanya alam pun sedang bersuka ria bersama dirinya, seakan angin ingin membagi kebahagian yang dirasa si pemuda pagi itu, kepada seluruh dunia, itu adalah hari yang bahagia. Seperti kesatria yang menemukan pedang pusaka, seperti pengembara gurun pasir yang menemukan oasis, dadanya terbusung, senyumnya sumringah, matanya berbinar, jantungnya berdebar, tanpa sadar bibirnya bergerak, mengucapkan doa, yang diamini oleh hati sebagai senuah awal dari pagi, ia pun siap menghadapi hari.
Ingatan kedua; Stasiun Purwosari, begitu yang tertulis di plang tempat kereta itu berhenti, pemuda itu pun turun dari kereta setelah satu jam perjalanan yang ditempuh dari Yogyakarta. Pemuda itu sangat familiar dengan keadaan stasiun itu, kota itu bukan kota yang asing, seperti kota kelahirannya sendiri, kota itu punya kenangan, memori yang tersimpan rapi dalam tiap tiap ruasnya, bersama dengan memori ribuan orang yang lain. Pemuda itu menjadi bagian dari kota ini, sebagaimana kota ini menjadi bagian dari dirinya. Ia kembali ke kota ini karena permintaan seseorang, ia datang memenuhi janjinya, dan untuk menjalankan sebuah ritual, ritual yang biasa ia lakukan, semenjak 4 stengah tahun yang lalu.
Setelah menaiki bis kota yang tak berubah semenjak pertama kali ia datang ke kota itu, ia turun agak jauh dari tempat perjanjian, memilih untuk jalan kaki, pelan pelan berusaha menelan semua perubahan yang terjadi pada kota itu. Hingga sampailah ia pada sebuah bangku taman sekolah, masih bangku yang sama dimana ia melakukan ritual yang sama selama 4 tahun lamanya, ia duduk menunggu sambil memandang gerbang pintu masuk sekolah, gerbang yang satu setengah tahun yang lalu menjadi simbol dari pemberian gelarnya sebagai alumni sekolah ini. Masih banyak ia melihat muka muka yang familiar, masih banyak orang-orang yang masih mengingat dan menyapa pemuda itu disana, yang berusaha dibalasnya walau hanya dengan sekedar senyuman. Dari belakang sesesok perempuan muda yang cantikpun muncul, dengan muka berseri dan senyuman sambil menyapa, “Mas” , lalu menyalami si pemuda yang sedikit kaget dengan kedatangan adiknya, sambil tersenyum pemuda itu menyodorkan bungkusan nasi dan minuman, “Nih nasi goreng sama es degan susu” , yang lalu diterima oleh adiknya dengan senang, “Tahu aja klo adiknya lagi laper”. Sudah hafal diluar kepala kedua kakak beradik itu, tentang prosesi awal ritual mereka di bangku taman sekolah, kalau sang kakak tidak membawa makanan, si adik pasti meminta dibelikan saat itu juga, jadi untuk menghemat waktu, memang akhirnya sang kakak sudah membawakannya makanan dari awal. Ritual pun secara resmi sudah dimulai, berjam jam akan mereka habiskan berdua, kakak beradik diatas bangku halaman sekolah itu, bercerita tentang apapun, tentang siapapun. Walaupun memang lebih sering di dominasi oleh cerita si adik, sang pemudapun kadang bertutur, namun kali ini ritualnya berjalan lebih lama dari biasanya, sang adik bercerita panjang lebar, dari kehidupan sekolah, masa depan kuliah, organisasi, sampai masalah cowok yang diam-diam ditaksirnya ato yang diam diam menaksir dirinya. Begitulah memang ritual ini selalu berjalan, sebagian ceritanya adalah cerita yang pemuda itu telah mengetahui sebelumnya, namun sebagian cerita adiknya adalah hal yang baru bagi si pemuda, seperti cerita adiknya bagimana ia membangga banggakan kakaknya di depan teman temannya.
Semuanya berjalan seperti biasa sampai pada suatu titik sang pemuda pun angkat bicara, pelan, dengan nada sedikit bercanda, ia berkata pada adiknya, “Aku jatuh Cinta”, tiga kata, tiga detik, lalu raut wajah sang adikpun berubah, entahlah bercampur antara rasa kaget, heran, takjub, dan takut ekspresinya, tidak jelas bagi sang pemuda ekspresi apa yang sebenarnya ditampakkan oleh adiknya. tiga detik, tiga kata, lalu diam. Wajar sekira kalau sang adik kaget, selama ini cinta pemuda itu hanya dibagi untuk 2 wanita, Mamanya, dan Adiknya, kini tiba tiba pemuda itu seperti berkata, “cinta yang ada akan di bagi 3, akan ada 3 wanita dalam satu hati, akan ada hati yang harus dibagi.“ Athmosfer ritual itupun berubah, pemuda itu sadar, bahwasanya ada ketegangan disitu, ada rasa takut, mungkin ditambah rasa kecewa, pemuda itu lebih banyak diam, ada kata kata yang ingin disampaikan, ada rasa yang ingin disampaikan, tapi caranya masih mejadi rahasia. Ia ingat pesan yang dibacanya di telpon genggamnya pagi itu, ia teringat akan kekhawatirannya yang terjawab, ia ingat akan kegundahannya yang telah tenggelam, kegelapan yang telah disibak terang oleh cahaya harapan, mungkin kini saatnya memberikan adiknya jawaban, bagi ketakutannya. Sebelum pamit, ia genggam tangan adiknya lebih lama, ia peluk adiknya lebih lama, berharap rasa nya tersampaikan, berharap kata-kata dalam hati menyatu dalam pelukan, bahwasanya “hati kita dibuat tak berbatas, ketika mencintai orang lain, cinta itu tidak habis terbagi, ia justru bertambah,terakumulasi. tak kan berkurang cintaku padamu di hati, justru akan bertambah cinta yang akan ditampung oleh hati. Sungguh mencintai tak akan mengurangi, memberikan cinta justru akan menjadi energi yang kembali, kedalam hati, beribu ribu kali. Jadi jangan takut, karena cinta itu tak akan terbagi, ia tak akan berkurang, ia tak akan mati.” Pemuda itu pun lalu pergi, kembali ke kota dimana ia menulis mimpi mimpi, ia memandangi pesan yang sampai di telpon genggamnya pagi tadi sambil lirih ia menjawab, “Aku pun begitu, ingin bersamamu lebih lama lagi, menikmati rasa itu, candu, semanis madu.” Keretapun berlari kembali ke kota mimpi, membawa pesan hati, yang semoga sampai juga di hati, yang walau terpisah lautan, akan tetap tersampaikan. Kini kereta pun semakin cepat berlari ke Yogyakarta tempat pemuda itu kembali.
Pemuda itu pun membuka mata, ia pun tersenyum kembali memandang layar yang menampilkan selembar layar kosong tanpa kata, namun kini jarinya telah siap menari, kaliini lahir dari rasa mungin namanya cinta, ia ketikkan sebuah judul, “Hari Berbahagia”
Il Grande Statista,
Yogyakarta, Rabu 25 Januari 2012
—I'll Stand By You (Glee Cast Version)
I think, this is the right song to be dedicated to my beloved buddy sembelit
Buddy Sembelit goes to Sandranan Beach

Hari Selasa, 8 November 2011 adalah salah satu dari beberapa hari spesial di penghujung tahun 2011, setelah perencanaan yang sebenarnya agak mendadak juga, setalah gonta ganti jadwal, belanja, masak masak, dan mengemis ngemis kendaraan mobil untuk dipake diperjalanan akhirnya kita pun siap, dan berangkat menuju tempat yang telah kami rencanakan bersama. “Buddy Sembelit goes to Sandranan Beach” kalau boleh hari itu diberi judul. Hari itu termasuk hari yang tidak biasa, sulit biasanya mengumpulkan semua anggota buddy secara lengkap, namun hari itu hampir semuanya hadir, kecuali Asita yang lagi pulang kampung, Arif yang keberadaanya tidak diketahui, Angga yang lagi sakit, Observer Adel, dan kakak buddynya Dara, smwnya hadir dan turut serta meramaikan agenda jalan jalan kepantai hari itu. It wasn’t easy to put all of the plan together, and from the very beginning I was thinking that It is not going to be easy to execute them either.
A real beautiful thing usually hard to see and hard to get. Mungkin betul filosofi tersebut, bahwasanya suatu kecantikan yang nyata biasa nya terlindungi dengan baik, suatu yang berharga biasanya berada jauh di dalam bumi, atau di pelosok hutan, atau terletak jauh di dalam hati, dan ternyata keindahan pantai Sandranan adalah salah satu yang hard to get. Rencana awal kita harus berubah terus menerus, menyesuaikan dengan jadwal dan agenda anggota buddy, tidaklah mudah untuk mencari waktu dimana semua orang bisa ikut bersama. Masalah transportasipun tak kalah bikin pusing, karena kesalahan perhitungan, yang seharusnya kuta bisa memakai 3 mobil akhirnya hanya berakhir dengan dua mobil, satu hari sebelumnya sepanjang hari digunakan untuk mencari pinjaman mobil kesana kemari, yep tapi apa daya, sepertinya emang kita harus berusaha menggunakan dua mobil saja, agak berdesak desakan, dan nantinya kita dituntut untuk lebih kreatif lagi menggunakan sisa sisa tempat yang ada di mobil kita. Di hari H kita harus berpikir bagaimana memasukkan 12 orang manusia dalam dua mobil yang sebetulnya hanya muat 10 orang saja, naik motor bukanlah opsi hari itu, selain memang cuaca yang kelewat galau alias suka gonta ganti seenak jidatnya, naek motor pulang dari pantai di malam hari bagi orang yang g biasa melewati jalan wonosari yang berlika liku dan super gelap itu juga tidaklah aman, I used to do that, but i just can’t take the risk by let my buddy does the same, akhirnya secara kreatif salah satu mobil bisa diisi dengan 7 orang, dua di depan, 4 di tengah, dan 1 di bagasi (Sorry untuk Ahmed yang telah menjadi korban bagasi Jazz seama seharian penuh).
Pagi itu hari cukup cerah sebetulnya, aku sendiri berangkat ke kampus dengan pikiran positif, bahwasanya everything is going to be all right today, cuaca cerah, sinar matahari terang benderang, ah tapi tak selang berapa lama, anomali kegalauan cuaca Jogja ternyata hadir juga, diawali dengan tumpukan awan hitam dikejauhan, yang tak lama menghasilkan hujan, ditambah dengan angin yang cukup kencang, akhirnya membawa hujan itu ke Jogja juga, deras, hujan turun seakan tidak merestui keberangkatan kita. Rencana awalpun akhirnya harus berubah saat itu juga, kita harus menunggu beberapa saat untuk menunggu hujan reda, di jadwal tertulis jam 1 siang kita akan berangkat kesana, nyata ternyta jam 2.45 kita baru bisa berangkat, seakan tak peduli dengan waktu, dalam pikiran hanya ada, “yang penting kita berangkat”. Perjalanan ke pantai Sandranan Wonosari relatif cukup jauh, dengan ditambah berhenti tiga kali, untuk toilet, isi bensin, dan pengambilan uang di ATM juga ditambah dengan ketika aku sempet nyasar dan salah jalan karena bingung juga sama navigatornya akhirnya membuat kedatangan kita jadi semakin tertunda, akhirnya setelah perjalanan cukup panjang, kitapun sampai di Pantai Sandranan pada jam 4.35an. Setelah meng unpack semua perlengkapan dan bekal yang kita punya, kita pun menuju pantai, dan segera menggelar becah mat di tempat yang kita rasa pas, menikmati suasana sore yang agak berawan, dengan cahaya lembut dari matahari yang bersembunyi di balik awan, tenggelam sedikit demi sedikit, di sepanjang garis cakralama, sejenak kita akhirnya melepaskan beban, berlarian kesana kemari, bermain dengan air, menikmati keindahan magis di tempat dimana lautan perasaan berkumpul, dan akhirnya kita pun mengakhiri ritual sore yang singkat itu dengan mengisi perut yang telah lama berontak kelaparan, sebelum akhirnya awan mendung itu sampai ke wonosari juga, membawa hujan lebat yang ahirnya memaksa kita untuk berteduh, di pendopo seorang warga yang memang kebetulan membuka warung disana.
Pantai memang salah satu spot favoriteku, jauh dari peradaban, jauh dari hiruk pikuk dan pikiran pikiran yang mencemaskan, salah satu tempat yang paling pas menurutku untuk menjernihkan pikiran yang telah terkontaminasi banyak hal selama di Jogjakarta. At first, aku pikir acara jalan2 “Buddy Sembelit, goes to Sandranan beach” ini adalah acara yang gagal, aku gagal memprediksikan cuaca, aku gagal untuk berangkat ontime, dan gagal untuk mempersiapkan transportasi dengan baik, in short, I blew off this great plan. Tapi pantai memberikanku prespektif yang berbeda, the fact that it is not easy to get there, and the plan is not perfectly executed itu bisa jadi suatu hal yang positif, lamanya perjalanan dari Jogja menuu Sandranan melewati bukit dan pedesaan perdalaman, ternyata membuat aku lebih mengenal lagi adek adek buddyku selama perjalanan itu, berbeda dengan acara nonton bareng yg kita terfokus pada filmnya, ketika dalam perjalanan kita akan fokus pada manusia, fokus membuka pembicaraan, berinteraksi selama di jalan. Di pantaipun sama, sambil makan dan menunggu hujan yang lebat sedikit reda, kitapun berbicara satu dengan lainnya, jarang kita bia berkumpul dan sekedar mmebicaarakan apapun secara random seperti ini, klo memang sebagai kakak buddy I’ve to choose the best buddy moment so far, aku kira berkumpulnya kita dengan pembicaraan yang random di pendopo ditemani hujan deras itu akan jadi salah satunya. The fact bahwasanya this miserable plan and miserable trip ini membuat kita semua semakin dekat, menurutku adalah something to be happy about.
I think in life, we will remember the bad moments that we went through together more than the good one, karena sering kali kebersamaan itu justru dirasakan ketika kita bersama sama menjalani sebuah kesulitan, bersama sama merasakan kesulitan, namun bersama sama pula menikmatinya, for me good life is not all about the good moments, but also about how we having fun even at the bad times. Gelap, hujan, dan hawa dingin mungkin bukanlah suatu yang ideal untuk the best beach trip, tapi ketika kita bisa melihat cahaya di balik kegelapaan, menikmati kesegaraan dari hawa dingin yang menyelimuti diri, dan mendengarkan melodi dinamis dari suara rintik hujan maka badai pun dapat disulap menjadi saat paling romantis yang pernah ada, because life is not about waiting for the rain to stop, but life is about dancing in the rain.
Lihat juga: http://barabrahmantika.blogspot.com/
If you have to chase, chase something that worth the run
—
Bara ‘il Grande Statista’
Aku dan Bayangan
Dalam kesendirian aku merenung
Menatap Bulan yang bersembunyi di balik awan
Ditemani angin yang bermain kesana kemari lewat jendela yang kubuka
Bermain, ia mengibas ngibaskan tirai jendela, dan berhembus pada muka yang tak lagi ceria
Ku menengok ke arah cermin, ku lihat diri sendiri yang kusut tak karuan rupa
Bertanya ku pada banyangan diri, “Hei dimana bara api yang pernah ada?”
Bayangan di cermin hanya diam… diam… hening… tak bersuara
Ku bertanya kembali padanya, “Apa ini rasa dingin yang menyeruak di dalam dada?”
Bayangan di cermin hanya diam.. diam.. terpaku… memandangku.. tanpa suara..
Seakan diriku tidak ada, ato dianggapnya aku ini gila.
Ah, mungkin memang diri ini sudah gila,
Bertanya pada cermin, mencari jawaban pada bayangan
Berharap mukzizat merubahnya menjadi cermin ajaib yang akan menjawab semua pertanyaan
Namun dalam kegilaan itu aku tetap berharap, suatu saat jawaban jawaban itu akan terjawab
Suatu saat akan ada angin yang mampu menyalakan bara api yang telah meredup gelap
Yang menghangatkan setiap relung jiwa, melenyapkan rasa dingin yang menyeruakkan dalam dada..
—Come Fly With Me
This Should be Garuda theme song for the nostalgic plane
